Connect Us

Home » » Prinsip Dasar Islam

Prinsip Dasar Islam

Written By Ucu Sofyan on 18/11/2011 | 9:44:00 am

Islam sebagai agama yang diridhoi Allah SWT dan diajarluaskan melalui rasul terakhir Muhammad adalah sebagai penyempurna ajaran yang sudah ada sebelumnya. Dari kesekian agama yang diajarkan oleh nabi terdahulu mengenai ketauhidan (pegesaan Allah) kemudian disempuranakan oleh ajaran Muhammad SAW dengan membawa misi selain ketauhidan juga perbaikan system muamalah (hubungan antar manusia) agar terjalin hakikat Islam yang sesungguhnya. Pada awal penyebaran Islam, seringkali terjadi persinggungan – persinggungan karena kekeraskepalaan kaum Quraisy yang memegang teguh adat leluhurnya dan tidak mau menerima perubahan kearah yang lebih baik seperti yang dibawa oleh Muhammad SAW.

Demikian halnya dengan era pasca kerasulan Muhammad, berlanjut kepada kepemimpinan khulafaurasyidin, hingga sekarang dipimpin oleh presiden (sebagaimana Indonesia) masih banyak terjadi persinggungan – persinggungan baik yang disengaja maupun tidak. Sebenarnya, system ketatanegaraan apapun yang dijalani sebuah bangsa tidak menjamin akan adanya perbaikan tatanan kehidupan yang lebih baik. Katakanlah system demokrasi yang menjunjung tinggi kebebasan dalam berpikir, berpendapat, beraksi dan mulai menghilangnya pengungkungan terhadap suatu hal, tentunya bukan pula sebuah jaminan memperbaiki pola dan tata kehidupan masyarakat tanpa adanya peran serta dari masayarakat itu sendiri. Artinya back to person (kembali kepada masing – masing individu)

Jika kita lihat pola kehidupan masyarakat Indonesia yang heterogen dan terbentuk dari ratusan suku dan bangsa, akhir – akhir ini seringkali terjadi pemaksaan suatu ideologi yang harus mendominasi ideology yang ada. Dalam hal lain lebih disebut kepada elektabilitas ideology. Meninjau pada internal Islam saja, dapat dipastikan pertentangan antar organisasi masyaraat lebih cenderung disebabkan karena adanya perebutan anggota. Seperti muhammadiyah dan Nahdatul Ulama, seringkali terjadi dikalangan bawah (sector keluarga) terjadi name insult (penistaan nama baik) yang mengatakan bahwa organisasi keagamaan/kemasyarakatan tertentu sebagai paham agama baru yang mesti diberangus dan dieliminasi.
Daripada itu semua, pertentangan yang terjadi antar manusia dengan manusia, berlanjut antar manusia dengan lingkungan dan bahkan antar manusia dengan tuhannya merupakan dinamika kehidupan. Visi utama terlahirkanya Muhammad ke dunia yang semrawut ini ialah untuk menyempurnakan akhlak. Akhlak ini sangatlah luas cakupannya, akhlak bermuamalah antar manusia, akhlak manusia dengan tuhannya dan akhlak manusia terhadap lingkungan. Terlepas dari itu semua, penyusun akan membuat batasan pembahasan akhlak manusia dalam muamallah saja dengan sub tema: Kejujuran, Keadilan, Persamaan Derajat, Musyawarah, Toleransi, Tolong Menolong, Amar Ma’ruf Nahi Munkar

1.    Kejujuran

kejujuran merupakan hal yang sangat fundamental dalam ajaran Islam. Jujur jika diartikan secara baku adalah "mengakui, berkata atau memberikan suatu informasi yang sesuai kenyataan dan kebenaran". Dalam praktek dan penerapannya, secara hukum tingkat kejujuran seseorang biasanya dinilai dari ketepatan pengakuan atau apa yang dibicarakan seseorang dengan kebenaran dan kenyataan yang terjadi. Bila berpatokan pada arti kata yang baku dan harafiah maka jika seseorang berkata tidak sesuai dengan kebenaran dan kenyataan atau tidak mengakui suatu hal sesuai yang sebenarnya, orang tersebut sudah dapat dianggap atau dinilai tidak jujur, menipu, mungkir, berbohong, munafik atau lainnya.
Melalui buku The Speed of Trust, karya Stephen M.R. Covey, kita dapat menggali arti kejujuran. Kejujuran dalam bahasa inggris adalah HONESTY yang artinya ’telling the truth and leaving the right impression’. Jadi jika sekedar menyampaikan berita yang benar tapi dengan impresi yang salah, masih belum dikatakan sebagai jujur. Namun, lebih jauh, kejujuran yang dimaksud untuk meningkatkan kepercayaan (trust), honesty  saja tidak cukup, namun dibutuhkan yang lebih dari sekedar honest, yaitu dibutuhkan INTEGRITY. Untuk integrity dibutuhkan CONGRUENCE, HUMILITY  dan COURAGE.
Congruence dapat diartikan memiliki kesamaan dari luar maupun dari dalam (the same inside and out – not compliance). Jadi pribadi orang tersebut tidak ada yang disembunyikan, karakter melekat dengan sifatnya. Humility ditekankan sebagai humble person, atau orang yang bersahaja. Stephen M.R. Covey mengungkapkan:
“A Humble Person is more concerned about what is right than about being right, about acting on good ideas than having ideas, about embracing new truth than defending outdated position, about building the team than exalting self, about recognizing contribution than being recignized for making it.”
Courage artinya memiliki keberanian untuk mengungkapkan kebenaran. Courage sangat penting dalam menumbuhkan integrity, sebagaimana Winston Churchill pernah berkata: “Courage is the first of the human qualities becouse it is a quality which guarantees all the others.”

2.    Keadilan
Keadilan adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang. Menurut sebagian besar teori, keadilan memiliki tingkat kepentingan yang besar. John Rawls, filsuf Amerika Serikat yang dianggap salah satu filsuf politik terkemuka abad ke-20, menyatakan bahwa "Keadilan adalah kelebihan (virtue) pertama dari institusi sosial, sebagaimana halnya kebenaran pada sistem pemikiran" . Tapi, menurut kebanyakan teori juga, keadilan belum lagi tercapai: "Kita tidak hidup di dunia yang adil" . Kebanyakan orang percaya bahwa ketidakadilan harus dilawan dan dihukum, dan banyak gerakan sosial dan politis di seluruh dunia yang berjuang menegakkan keadilan. Tapi, banyaknya jumlah dan variasi teori keadilan memberikan pemikiran bahwa tidak jelas apa yang dituntut dari keadilan dan realita ketidakadilan, karena definisi apakah keadilan itu sendiri tidak jelas. keadilan intinya adalah meletakkan segala sesuatunya pada tempatnya

3.    Persamaan Derajat
Pelajaran sejarah menunjukkan bahwa pemujaan atau pengkultusan individu seperti terhadap Firaun, membuat yang bersangkutan lupa diri. Bahkan Firaun menganggap dirinya sebagai Tuhan, sehingga itu membuatnya jatuh. Dalam Islam, semua yang namanya manusia adalah sama. Yang pernah lahir, pasti merasakan mati. Tidak ada satu-pun yang memiliki posisi lebih tinggi dari yang lainnya. Semua sama : manusia.
Jika kita melihat aturan di atas, maka persamaan derajat dalam Islam adalah yang paling adil. Semua dipandang sama. Tak ada yang berbeda. Apakah dia orang Eropa, Asia, Amerika, atau Africa.  Semua hanya boleh bertindak sesuai posisinya sebagai manusia. Ketentuan inilah yang menyebabkan perjuangan kemerdekaan Indonesia selalu dimotori oleh orang-orang alim ( ulama )
Sedangkan untuk kawasan dunia international, di saat ketentuan ini mulai  melemah, maka saat itu mulailah dunia memasuki era imperialisme. Mulai dibentuklah suatu kondisi yang mengacu pada suatu arah :  bangsa kulit putih, lebih baik dari bangsa lain. Saat itu, semua lupa bahwa semua manusia adalah sama. Bahkan untuk seorang nabi-pun, dia harus bekerja untuk kehidupannya sendiri. Dan dia tetap manusia .

4.    Musyawarah
Musyawarah adalah proses deliberasi atau berembuk yang mempertimbangkan semua sisi dari sebuah isu.Musyawarah merupakan salah satu asas dasar negara Indonesia yang membedakannya dari negara-negara lain. Musyarawah tercantum di dalam sila keempat dari Pancasila. Musyawarah untuk mufakat pada dasarnya merupakan kesepahaman atau kata sepakat antara pihak-pihak yang berbeda pendapat sehingga pemungutan suara  dapat dihindarkan dan diharapkan semua pihak yang berbeda pendapat dapat menemukan keputusan tunggal.
Musyawarah sering ditampilkan sebagai alternatif dari "pengambilan suara" atau "voting". Penggunaan sistem pemungutan suara ditakutkan oleh bapak-bapak bangsa akan menimbulkan penindasan oleh mayoritas baik oleh suku, agama, kepercayaan, bahasa, dll. dan menimbulkan perselisihan negara dan tidak sesuai dengan Bhineka Tunggal Ika.
Musyawarah adalah suatu kelaziman fitrah manusia dan termasuk tuntuntan stabilitas suatu masyarakat. Musyawarah bukanlah tujuan pada asalnya, tetapi disyariatkan dalam agama Islam untuk mewujudkan keadilan diantara manusia, dan juga untuk memilih perkara yang paling baik bagi mereka, sebagai perwujudan tujuan-tujuan syari’at dan hukum-hukumnya, oleh karena itu musyawarah adalah salah satu cabang dari cabang-cabang syari’at agama, mengikuti serta tunduk pada dasar-dasar syari’at agama.
Dan sungguh kami telah melihat bahwa terdapat dalam dua ayat yang mulia berkenaan dengan masalah musyawarah.
Pertama : Tentang Kewajiban Kepala Pemerintahan Untuk Bermusyawarah “Artinya : Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakal kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepadaNya” [Ali-Imran : 159]
Kedua : Dalam Mensifati Berbagai Kondisi Kaum Muslimin Secara Umum Yang Senantiasa Bermusyawarah “Artinya : Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka” [Asy-Syuura : 38]

5.    Toleransi
Toleransi adalah istilah dalam konteks sosial, budaya  dan agama  yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi  terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat. Contohnya adalah toleransi beragama, dimana penganut mayoritas dalam suatu masyarakat mengizinkan keberadaan agama-agama lainnya. Istilah toleransi juga digunakan dengan menggunakan definisi "kelompok" yang lebih luas, misalnya partai politik, orientasi seksual, dan lain-lain. Hingga saat ini masih banyak kontroversi dan kritik mengenai prinsip-prinsip toleransi, baik dari kaum liberal maupun konservatif.
Toleransi sebagai sebuah konsep ideal dalam berkehidupan bermasyarakat, bangsa, dan negara, sayangnya lebih terkesan sebagai sebuah konsep formalitas belaka, yang selalu dihadirkan dalam setiap kurikulum studi kewarganegaraan maupun studi Pancasila.
Sehingga, kita hanya mengetahui belaka tanpa bisa memahami lebih dalam dan menginternalisasi nilai-nilai toleransi dalam kehidupan nyata. Mungkin ini terlihat pesimistis, tapi kenyataan membuktikan, sudah terlalu banyak kasus-kasus baik kekerasan fisik maupun non fisik yang terjadi karena sikap intoleransi kelompok-kelompok yang berbeda etnis, agama, ideologi dan berbagai macam perbedaan lainnya. Tak jarang pula ratusan bahkan ribuan nyawa melayang, yang sebagian besar disebabkan oleh sikap tidak tolerannya berbagai kelompok yang berbeda.
Terminologi toleransi secara umum diartikan sebagai sebuah term atau istilah dalam konteks sosial, budaya, dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat. Toleransi juga biasanya diartikan sebagai sikap, perilaku, atau perbuatan yang menerima, mengakui, dan/atau mengenal segala perbedaan yang eksis dalam berbagai kelompok yang majemuk/plural.

6.    Tolong Menolong
”Hendaklah kamu tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan, dan janganlah saling membantu dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras dalam hukuman-Nya.” Melalui ayat ini Allah swt. menyuruh umat manusia untuk saling membantu, tolong menolong dalam mengerjakan kabaikan/kebajikan dan ketaqwaan. Sebaliknya Allah melarang kita untuk saling menolong dalam melakukan perbuatan dosa dan pelanggaran.
Sebagai makhluk sosial, manusia tak bisa hidup sendirian. Meski segalanya ia miliki: harta benda yang berlimpah sehingga setiap apa yang ia mau dengan mudah  dapat terpenuhi, tetapi jika ia hidup sendirian tanpa orang lain yang menemani tentu akan kesepian pula. Kebahagiaan pun mungkin tak pernah ia rasakan.
Lihat saja betapa merananya (nabi) Adam ketika tinggal di surga. Segala kebutuhan yang ia perlukan disediakan oleh Tuhan. Apa yang ia mau, saat itu juga dapat dinikmatinya. Tetapi lantaran ia tinggal sendirian di sana , ia merasa kesepian. Segala yang di sediakan oleh Sang Pencipta bak terasa hampa menikmatinya. Dalam kesendirian yang diselimuti rasa kesepian itu Adam berdo’a pada Tuhan agar diberikan seorang teman. Allah pun mengabulkannya. Maka sebagaimana diceritakan dalam al-Qur’an, Allah pun menciptakan Hawa (Eva dalam Al-Kitab) untuk menemani Adam.
Sebagai makhluk social pula manusia membutuhkan orang lain. Tak hanya sebagai teman dalam kesendirian, tetapi juga partner dalam melakukan sesuatu. Entah itu aktivitas ekonomi, social, budaya, politik maupun amal perbuatan yang terkait dengan ibadah kepada Tuhan. Di sinilah tercipta hubungan untuk saling tolong menolong antara manusia satu dengan yang lainnya.
Tolong menolong merupakan kewajiban bagi setiap manusia, dengan tolong menolong kita akan dapat membantu orang lain dan jika kita perlu bantuan tentunya orangpun akan menolong kita. Dengan tolong menolong kita akan dapat membina hubungan baik dengan semua orang. Dengan tolong menolong kita dapat memupuk rasa kasih sayang antar tetangga, antar teman, antar rekan kerja. Singkat kata tolong menolong adalah sifat hidup bagi setiap orang.
Dengan menolong orang lain kita akan mendapatkan kepuasan yang amat sangat, kebahagiaan yang tak terkira, juga ada rasa bahwa kita ini ada dan diperlukan oleh orang lain. Rasa bahwa kita ini berguna bagi orang lain. Juga dengan mau menolong orang lain, pasti ada orang yang mau menolong kita, berlaku hukum sebab akibat, jika kita menolong A belum tentu A yang akan menolong kita, bisa saja B yang menolong kita.
Kita sering heran pada orang yang mampu untuk menolong seseorang tetapi tidak mau melakukannya, banyak orang kaya yang tidak mau memberi sebagian hartanya untuk orang miskin, banyak orang pintar yang tidak mau mengajarkan saudaranya yang bodoh, bahkan sebaliknya banyak orang kaya yang menipu orang miskin, banyak orang pintar membohongi orang bodoh demi keuntungan pribadinya.

7.    Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Amar ma'ruf nahi munkar, (al`amru bil-ma'ruf wannahyu'anil-mun'kar) adalah sebuah frase dalam bahasa Arab yang maksudnya sebuah intensi untuk mengajak atau menganjurkan hal-hal yang baik dan menghindari hal-hal yang buruk bagi masyarakat.
Kata Makruf dan Munkar adalah dua mafhum yang saling bertentangan. Secara etimologis, Makruf berarti yang sudah jelas dan munkar adalah yang belum jelas dan secara istilah Makruf  adalah perbuatan baik dan Munkar adalah perbuatan buruk menurut nalar akal dan hukum syariat.

 Oleh karena itu, makruf dan munkar memiliki cakupan yang luas dan tidak hanya terbatas pada urusan ibadah saja, akan tetapi mencakup urusan akidah, akhlak, ibadah, hak-hak manusia, ekonomi, militer, dan urusan budaya. Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa makruf dan munkar dapat digambarkan sebagai perbuatan mulia dan tercela.
Karena pelaksanaan amar makruf dan nahi munkar adalah sebuah kewajiban dan mencukup semua dimensi agama maka, para pelakunya harus mengetahui beberapa hal dibawah ini :
  1. Pelaku pelaksana amar makruf dan nahi munkar harus mengetahui bahwa melaksanakan perbuatan itu adalah sebuah kewajiban syar’I. Barang siapa yang tidak memiliki ilmu tentang hal itu, maka amar makruf dan nahi munkar tidak wajib baginya.
  2. Hendaknya amar atau nahi yang dilakukan memiliki nilai dan pengaruh bagi orang lain [sipendosa]. Oleh karena itu jika sang pelaku amar makruf dan nahi munkar tidak yakin usahanya akan mempunyai nilai dan berpengaruh, maka melaksanakan amar makruf dan nahi munkar tidak wajib baginya.
  3. Jika pelaku amar makruf dan nahi munkar mengetahui bahwa orang yang di makrufi [pelaku dosa] tersebut akan terus melakukan perbuatan dosa, atau jika ia tahu dengan pasti bahwa orang tersebut tidak akan meninggalkan perbuatan dosanya, maka amar makruf dan nahi munkar tidak wajib baginya
  4. Hendaknya pelaksaan Amar makruf dan nahi munkar tidak berbahaya bagi dirinya, atau keluarganya atau bagi saudara seagamanya. Kecuali jika pendosa itu berusaha untuk melenyapkan akidah, hukum Islam dan ideologi Islam, maka yang seperti ini meskipun melaksakan amar ma’ruf adalah kewajiban kifai maka, melaksanakan amar makruf dan nahi munkar dalam hal ini adalah wajib. Meskipun itu berbahaya bagi dirinya dan keluarganya. Contoh jelasnya adalah demi terjaganya Islam dan syiar Islam, tenjaganya keselamatan jiwa dan keluarga muslimin. Oleh karena itu, jika syiar-syiar Islami atau jiwa sekelompok muslim berada dalam bahaya dan terancam, maka disini harus diperhatikan mana letak urusan yang penting dan yang lebih penting (aham dan muhim). Kewajiban amar makruf dan nahi munkar tidak akan gugur bagi yang lainya hanya dengan melihat adanya bahaya bagi sang pelaku amar makruf dan nahi munkar.

Tahapan-tahapan
Cara paling awal dan paling berpengaruh dalam mengajak orang lain dalam amal kebajikan dan menghindari kemunkaran adalah si pelaku hendaknya menghiasi setiap perbuatannya dengan ketakwaan dan akhlak mulia. Dalam hal ini, Shahib Jawahir, salah satu fuqaha Syiah menuliskan:

 “Benar, pelaku amar makruf dan nahi yang paling utama dan yag paling berpengaruh adalah para pembesar agama yang memakai pakaian kebajikan, lebih dahulu melaksanakan amalan wajib dan mustahab, menjauhkan perbuatan buruk dari dirinya, menghiasi dirinya dengan akhlak mulia dan menjauhkan dirinya dari akhlak buruk. Inilah yang akan menjadi penyebab utama sehingga masyarakat mengarah pada perbuatan makruf dan menghindari perbuatan munkar”.
Share this article :

No comments:

Post a Comment

Tell your mind™

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Welcome to Blog Ucu Sofyan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger