“Hai orang-orang yang beriman, maukah kutunjukan kepadamu perniagaan yang menyelamatkanmu dari adzab yang pedih (10). Iman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Sungguh itu lebih baik untuk kalian jika kalian mengetahui (11)” (As-Shof)
Spekulasi, secara general dapat diartikan proses menerka-nerka suatu hal didasarkan pada persepsi dan perhitungan. Dalam beberapa kasus, spekulasi banyak sekali dilakukan. Dan memang proses spekulasi ini didasarkan pada dua titik persoalan, negativisme dan positivisme. Spekulasi negative memang pada dasarnya lebih besar perbandingannya daripada spekulasi positive. Contoh kecilnya, ketika terjadi gerhana matahari di bulan ramadhan, spekulasi/perkiraan manusia banyak terjebak perspektif negative dengan menyatakan bahwa ini semua merupakan tanda-tanda yang dominant membawa ekses buruk.
Indonesia, merupakan bangsa yag kompleks dengan berbagai sudut pandang dalam menanggapi hal yang ada. Seperti pada pemilihan caleg ataupun presiden, selalu terdengar nyaring di teling kita istilah “prediksi”. Prediksi memang istilah yang santun, lain halnya dengan istilah spekulasi yang dominant digunakan untuk pengistilahan yang cenderung negative, seperti perjudian ataupun taruhan, padahal arti keduanya tidak jauh berbeda hanya didasarkan pada penggunaan kalimat saja. Sudut pandang manusia memang didasarkan pada sifat dasar manusia itu sendiri dan berdasarkan environmental relief. Lingkungan pedesaan tentu akan sangat berbeda cara pandangnya dengan perkotaan, pegungan akan berbeda dengan pedesaan. Namun perlu diingat, bahwa proses spekulasi, prediksi dan perspektif manusia memang sering meleset dari apa yang diperkirakan. Hal ini dikarenakan ada factor Tuhan. Manusia hanya diperintahkan untuk proses sedangkan Tuhanlah penentu dari kesemuanya itu.
Spekulasi Manusia Seringkali Meleset
Adalah perjudian, sebuah peofesi yang penuh dengan spekulasi/prediksi. Proses menerka-nerka selalu menjadi dasar dalam penentu kekalahan ataupun kemenangan. Begitupun dengan pemilu (baik tingkat desa hingga Negara) selalu peruses spekulasi dikedepankan. Walaupun dengan perhitungan – perhitungan para ahli peneliti dari berbagai lembaga peneliti yang kian menjamur, namun tidak pernah seratus persen mencapai titik prediksi. Manusia memiliki limit/batas dalam segala hal. Walaupun dikaruniai akal fikiran, hanya saja beturan dengan kekuasaan Tuhan seringkali batas akal manusia terlihat dengan jelas.
Lantas, apakah spekulasi tersebut tidak menyalahi atau melangkahi kekuasaan Tuhan? Kesemuanya itu bedasar pada tingkat spekuatif yang dilakukan. Analogikan pada proses kehamilan seorang ibu, banyak sekali prediksi yang menyatakan bahwa anak yang kaan terlahir adalah wanita ataupun sebaliknya dan ada juga yang memperkirakan kembar. Walaupun alat untuk mendeteksi kelamin janin dalam kandungan semakin ditingkatkan kapabelitasnya, namun alat tetaplah alat yang akan mengalami depresiasi. Prediksi kelamin janin yang terekam alat dideteksi wanita, namun ada kalanya ketika terlahir kelaminnya pria. Apakah manusia melangkahi kekuasaan Tuhan dalam spekulasi kelamin janin? Kembali kepada pernyataan pendasaran tingkat spekulatif. Dalam kaidah islam, ada sifat jaiz (boleh) artinya Tuhan memang mempersilakan manusia untuk melakukan hal tertentu sepanjang masih dalam koridor yang tidak bertentangan dengan ketentuan. Ber-prediksi terhadap kelamin janin merupakan tingkat jaiz yang tidak bertentangan dengan koridor islam, artinya tidak menjadikan mansuia melangkahi kekuasaan Tuhannya.
Lain halnya dengan prediksi yang menyalahi koridor keimanan dan aqidah. Hal ini bukan merupakan jaiz lagi bagi manusia, melainkan sudah melangkahi kekuasaan Allah dan dikatakan keliru jika melakukan hal tersebut. Misalnya dalam kasus kemana manusia akan tinggal setelah kehidupannya di dunia. Tentu jawabannya hanya ada dua, jika tidak surga tentunya neraka begitupun sebaliknya. Spekulasi/prediksi manusia perlu ditinjau ulang jika berani mengklaim bahwa manusia akan masuk surga/neraka. Karena manusia memang tidak memiliki hak untuk menentukan semua itu. Perlu diingat bahwa Jaiz-nya manusia akan dianggap tidak bertentangan dengan koridor aqidah sepanjang tidak melangkahi kekuasaan tuhan. Hingga jika ditarik kesimpulan hak jaiz manusia adalah berhak spekulatif/prediktif sepanjang koridor keimanan dan aqidah tidak terlanggar.
Tuhan mengajak spekulasi kepada makhluknya
Differensiasi antara spekulasi manusia dengan tuhan adalah terletak pada hasil spekulasi. Sekedar penyegaran, bahwa spekulasi manusia yang berdasarkan environmental relief akan mengalami benturan dengan kekuasaan Tuhan, dalam artian apa yang diharapkan tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Namun, jika tuhan yang mengajak spekulasi, maka prediksi dan signifikansi keberhasilannya mencapai seratus pesen atau tiada kemelesetan bagi-Nya. Kita tengok referensi umat islam (Al-Quran), banyak sekali ayat ayat yang mengajak manusia untuk bertaruh. Satu ayat referensial, kita ambil dari surat Al-Shof ayat 10-11. disana Allah mengajak taruhan kepada manusia dengan menyatakan “maukah aku tunjukan perniagaan yang menyelamatkan dari adzab yang sangat pedih (11)” Allah menyatakan dengan pertama, iman kepada Allah dan rasul-Nya, kedua, berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa. Dan Allah memberikan pernyataan, jika itu semua dilakukan maka hal tersebut emberikan ekses baik yang mendorong manusia menuju keridhoan-Nya. Dzalikum khoirun lakum in kuntum ta’lamun.
Retorika dan puitisnya Al-Quran memang tidak terbandingi oleh karya sastrawan ulung sekaliber Taufik Ismail ataupun kahlil gibran. Jika ditelaah lebih lanjut, kandungan ayat 10-11 dari surat Al-Ahof ini akan membutuhkan pembahasan yang sangat panjang. Namun hemat penulis, kita memandang generalnya telebih dahulu dari makna dan kandungan ayat tersebut. Menurut ayat 10-11 surat Al-Shof ini, jikalau manusia ingin berspekulasi perniagaan (At-Tijaroh) maka ada dua unsure yang akan mengantarkan manusia menuju gerbang keridhoan
1. Iman Kepada Allah. Dan rasulnya
Iman, generalisasi secara bahasa artinya percaya. Menurut istilah yang ditetapkan oleh sebagian para ulama, adalah menetapkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan melakukan dengan perbuatan. Pengertian ini pun memang masih ada kekurangan sebab perlu penjelasan yang lebih mendetailtentang makna keimanan itu sendiri. Namun, secara sederhana, iaman kepada Allah adalah mempercayai keberadaannya dengan percaya terhadap sifat wajib, mustahil dan jaiznya. Kemudian diikuti dengan ucapan lisan yakni syahadat dan disempurnakan dengan Takwa yakni menjalankan perintah dan menjauhi larangan yang telah ditentukan oleh allah melalui ayatnya yang tersirat dan tersurat. Ayat Tersirat terdapat pada ciptaannya di semesta alam. Dan tersurat terdapat dalam Al-Quran. Dalam Al-Quran sudah pasti kita na’lum bahwa didalamnya terdapat semua peraturan yang mengatur segala aspek kehidupan. Sedangkan yang tersirat perlu pemahaman yang lebih agar tidak terjadi misunderstanding.
Ayat tersirat dapat kita ambil contohnya dari penciptaan alam semesta. Tidak mungkin alam semesta ini tercipta beserta isinya tanpa ada penciptanya yang lebih hebat dari ciptaanya. Tentu hal ini harus menjadi suplemen keimanan agar kita dapat menjalankan salah satu syarat taruhan menuju keridhoan Allah menurut ayat 10-11 surat Al-Shof.
Kemudian percaya terhadap rasul Allah. Yakni mempercayai jumlah rasul yang diutus dan 4 sifat wajib, 4 sifat mustahil dan satu sifat jaiz bagi rasul.
2. Berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwa
Factor yang ditawarkan Allah untuk mengajak spekulasi manusia adalah berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa. Jihad, bukan diartikan sempit dengan mengokang pedang dan membabat habis musuh. Jihad disini diartikan sangat luas, dan dengan factor harta dan jiwa. Satucontoh konkret berjihad dengan harta adalah wakaf tanah untuk masjid. Ataupula membangun yayasan bagi yatim piatu dan masih banyak sekali contoh jihad tersebut. Jihad dengan jiwa dapat dianalogikan memberikan karya fikiran bagi perkembangan kehidupan manusia, seperti membbuat penelitian ataupun mengarang buku yang didedikasikan perkembangan manusia.
Hingga jika kedua factor telah dilakukan dengan penuh keikhlasan, maka spekulasi yang ditawarkan Allah akan menuju taraf signifikansi tepat. Pada akhirnya manusia tetap saja hanya memproses dan tuhanlah yang menentukannnya.
Wallahu a’lam
Share this post »»
|
|
|
Tweet | Save on Delicious |










Quote your blog info thanks nice and helpful, best regards and greetings successful blogger. nice blog
sprei
bedcover
posting yang menarik...!